KEBIJAKAN LN BIDEN; KEMBALI MULTILATERALISME ?
Oleh: Reinhard Hutapea
Staf pengajar Fisipol UDA Medan
Published, Waspada, 17 Desember 2020
Kemenangan Joe Biden atas Donald Trump disambut dunia dengan gegap gempita. Dunia kembali bersorak-sorai, seakan-akan angin segar segera berhembus. Dunia akan kembali seperti era-era sebelumnya yang “kolaboratif-miltilateralis-globalis”, mengenyahkan “realis-unilateralis chauvinis alaTrump”.
Sinyalemen demikian, (paling tidak) dapat dilihat dari artikel seorang pengamat, yang pernah bermukim di Maryland AS (Lukas Luwarso) di salah satu media terkemuka (K, 28 Nopember 2020). Ia menggambarkan kemenangan Biden sebagai kemenangan “nalar sehat”, yang bisa mengembalikan karakter demokrasi AS yang sempat terperosok dalam “otokrasi Trumpisme” ke karakter aslinya, yang (konon/katanya) tidak hanya menguntungkan AS, namun, juga dunia pada umumnya. Sesederhana itu?
Jawabannya tidak mungkin sesimpel itu. Tergantung dari sudut mana meniliknya. Dari sudut sempit mungkin seoptimis itu, karena terpukau dengan “propaganda, retorika, dan gejala-gejala sesaat fenomena internasional yang euforis. Namun, dari pandangan yang luas, yang mendasar, yang mengakar, dan mungkin yang filosofik nan historis, cenderung adalah kebalikannya.
Apakah Trump dalam kepemimpinannya selama ini penyakitan dan tidak demokratis, sehingga nalarnya tidak sehat dan tata kelolanya otoriter? Tunggu dulu…. Jika Trump dituding penyakitan dan stylenya otoriter, logikanya seluruh pemilih yang memenangkannya pada pemilu 2016 adalah mahluk-mahluk seperti itu juga (penyakitan dan egois). Apakah seperti itu? Apakah mayoritas masyarakat AS sudah tidak sehat dan mengidap anarkhisme politik? Perlu pembahasan lain, dan tentunya bukan tujuan artikel ini.
Pendukung, konstituen, atau simpatisan Trump, jauh dari pandangan-pandangan sempit demikian. Mereka memenangkan Trump, bukan karena euphoria (mabuk kepayang), melainkan karena program, atau tepatnya terobosan yang ditawarkannya logis (masuk akal/dapat diterima) bagi pemilihnya. Beliau menawarkan “American First” sebagai antitesa dari kebijakan-kebijakan sebelumnya nan mercu suar-globalis, yang kurang memperhatikan nasib rakyat kecil.
Politik Realis
Kebijakan yang tentu menggemparkan dunia, karena selama ini banyak negara-negara yang ekonomi-politiknya tergantung (dependen) kepadanya. Negara-negara yang umumnya adalah negara-negara besar, negara-negara eks sekutunya pasca perang dunia II, seperti Jepang, negara-negara di Eropa Barat, yang mendapat perlindungan nuklir dan bantuan ekonomi, untuk menghadang lajunya “komunisme” (Containment policy) dalam perang dingin (cold war).
Oleh karena itu, secara refleks mereka terhenyak, bahkan terhuyung-huyung, ketika Trump, secara sepihak menjungkirbalikkan keadaan (memutus kerjasama-kerjasama itu). Dengan gagah berani, sosok yang disebut “tak teratur, semrawut, dan erratic (Prof Dr Robert Jervish, dalam Liddle, K, 16 Maret 2019)) ini, memutuskan akan keluar dari Trans Pasifik Partnershift (TPP), menutup perbatasan dengan membangun tembok dengan Meksiko, melarang immigran dari 9 negara Islam yang dituding sebagai sarang teroris, mengeksekusi NATO sebagai organisasi yang usang, tindakan tegas kepada mitra-mitra dagang yang membuat perdagangannya deficit, dan terakhir adalah mendiskreditkan dan memutus bantuan terhadap WHO dalam pembrantasan Covid-19.
Jelas semua negara-negara yang tergantung ekonomi-politiknya dengan AS terhenyak bak petir di siang bolong, karena tidak ada pemberitahauan (tepatnya perundingan) sebelumnya tentang kebijakan yang luar biasa (extra ordinary) tersebut, meski dalam kampanye pilpres, Trump, telah mempublikasikannya dalam buku yang berjudul “Crippled America”, alias Amerika yang lumpuh.
Dalam bukunya tersebut, ia menulis dengan kasat mata, bahwa ia, telah mewarisi Amerika yang sakit, yang menderita, yang miskin, yang mundur, yang tak bisa diselesaikan pendahulu-pendahulunya, seperti Obama, Bush Jr, Bush Sr, Clinton, etc.
Penyakit-penyakit kronis tersebut antara lain adalah mundur dan defisitnya perekonomian AS ke tingkat nadir, akibat terlalu banyak membiayai organisasi-organisasi kerjasama Internasional (NATO) pasca perang dunia II, membesarkan dan melindungi negara-negara sekutunya, yang lama kelamaan akhirnya menerkamnya secara ekonomi. Negara-negara demikian sebagaimana disebut sebelumnya adalah Jepang, negara-negara di Eropa Barat, dan derivasi-derivasinya, seperti Korea Selatan dan lain-lain (ibarat membesarkan anak harimau).
Begitu pula dengan kebijakan membuka diri sebebas-bebasnya kepada pendatang asing beremigrasi ke AS, yang dalam perjalanannya, step by step malah menggusur pekerja domestiknya, dan yang tak kurang penting (lebih tepat kelirunya) adalah strategi membebaskan pengusaha-pengusaha lokalnya ekspansi ke luar negeri (MNCs/TNCs) yang dalam perjalanan atau perkembangannya ternyata membawa kapital keluar, dan tidak memberikan pekerjaan bagi rakyat AS sendiri.
Semua itu sebagaimana dikatakan di atas telah membawa AS kepada kemunduran besar, yang harus diselesaikan dengan cara revolusioner, cara yang tidak lazim, demi Lebensraum Amerika. Tidak seperti yang dipraksiskan pendahulu-pendahulunya yang terkesan lemah, terlalu diplomatis, dan moralis-globalis.
Tidak mungkin dengan kiat demikian, namun dengan kepemimpinan yang kuat, yang tangan besi, yang unilateralis, meski mendapat tantangan, cemoohan, dan sekian banyak kritik/hujatan dari dalam, dan terutama dari luar negeri. Trump tak bergeming/tak peduli. Malah sebaliknya, ia tegar, sangat percaya diri memenuhi janji-janji politiknya sewaktu kampanye, yakni American first.
Terobosan kongkrit tersebut dapat dilihat/dibuktikan, ketika ia baru saja dilantik jadi presiden, langsung memerintahkan, agar diambil tindakan tegas terhadap 15 negara mitra dagangnya (termasuk Indonesia) yang merugikan negerinya. Tanpa argumen yang memadai (teoritik-filosofik), Trump langsung menuding bahwa negara-negara yang diambil tindakan keras itu, telah melakukan kecurangan dalam perdagangan antar kedua negara, sehingga Amerika mengalami deficit yang significan.
Untuk mengembalikannya ke posisi semula, metode, kiat, atau strategi yang ditempuh, tiada lain tiada bukan, adalah membalikkan paradigma yang berlaku sebelumnya, yakni tidak mengikuti mekanisme atau prosedur, seperti yang di atur dalam rezim perdagangan bebas (WTO).
Semua tindakan semata-mata hanya demi kepentingan nasional (American first), yakni melindungi produsen lokal, menaikkan pajak impor, membatasi quota impor, dan memaksa negara-negara lain menerima produknya (merkantilis)
Terhadap negara-negara yang berhimpun dalam NATO, Trump mengultimatum agar meningkatkan kontribusi, pembayaran, atau iurannya. Dengan garang bak rajawali, beliau mengancam, jika tidak menaikkan kontribusi/kewajibannya, NATO akan dibubarkan, dan masing-masing anggota menjaga kemanannya sendiri. Tidak lagi di bawah payung nuklir AS.
Tercatat yang paling keras ancamannya adalah Jerman, Perancis, Jepang, Italia dan lain-lain negara Eropa, sebab sudah mendapat perlindungan/payung nuklir selama ini. Dengan tegas bak supermen yang turun dari langit, Trump menekan Merkel, Macron, Abe dan lain-lain pemimpin anggota NATO, agar mengikuti perintah sepihak tersebut.
Meski bersungut-sungut, merengek-rengek, dan berat hati, seperti anak kecil yang minta jajan ke ibunya, semua anggota NATO, kecenderungannya tiada pilihan lain, selain mengikutinya. Masing-masing negara tersebut telah berjanji akan memenuhinya secara bertahap, meski ada bisik-bisik dinatara mereka, agar masing-masing negara, mulai melepaskan ketergantungannya.
Kembali Multilateralism?
Belum cukup disitu, Trump semakin menggandakan anomaly dan paradoksnya, yakni secara sepihak menyatakan keluar dari kesepakatan Paris tentang perubahan iklim, yang sebelumnya telah disepakti Obama (pendahulunya). Beliau menganggap kesepakatn itu sebagai yang terburuk, karena mengganggu perekonomian Amerika.
Begitu pula kesepakatn nuklir dengan Iran, Amerika keluar dari perjanjian itu. Tanpa pembicaraan – perundingan sebelumnya dengan mitra-mitranya, seperti Inggris, Perancis, Rusia, China, dan Jerman, yang juga telah didukung Resolusi Dewan Kemanan PBB No 2231, tanggal 8 Mei 2018. Trump membalikkan kesepakatan secara sepihak.
Semua itu dilakukan Trump, sebagaimana kata essays terkenal, Asheuuer (K, 15 April 2019) adalah demi profit, atau meminjam kata-kata guru besar Ilmu Hubungan Internasinal, Columbia University adalah “money is everything, untuk memenuhi janji-janji kampanyenya, yakni membangun kembali ekonomi negerinya yang terpuruk.
Lalu Biden yang terpilih menggantikannya akan merubah tatanan yang realis-unilateris ini ke tatatanan yang sebaliknya, yakni yang globalis-multilateris, sebagaimana yang dijalankannya ketika bersama Obama? Banyak pengamat tidak yakin, sebab dunia sudah banyak berubah. Tampilnya China dan Rusia sebagai raksasa ekonomi, militer, dan diplomasi adalah salah satu kendala, bahwa Biden sukar merealisasikan multilateralisme.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar